Created (c) by Princexells Seyka (Princelling Saki)

Lolong – Buaya Terbesar di Dunia



Inilah Lolong, buaya terbesar di dunia! Tertangkap di Bunawan di Filipina, Buaya air asin raksasa ini panjangnya 6,17 meter dengan berat 1.075 kg, atau satu ton lebih! Hal ini membuat Lolong 2 kaki lebih panjang dari buaya pemegang rekor sebelumnya, meskipun diperkirakan bahwa buaya air asin dapat tumbuh hingga 7 meter.
Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, buaya raksasa ini ditangkap pada bulan september 2011 yang lalu oleh tim pemberani di Filipina selatan. Lolong, diyakini berusia lebih dari 50 tahun saat ditangkap. Tiga puluh orang telah menghabiskan tiga minggu mencoba untuk menangkap reptil besar ini sebelum akhirnya terjerat pada bulan September 2011 menggunakan babi mati sebagai umpan dan kabel baja di atasnya seperti di kutip dari terselubung.in
Sebuah traktor dibutuhkan untuk mengangkut buaya ini ke trailer yang membawanya ke taman wisata kota untuk dipelihara dan dijadikan tontonan – tetapi sebelumnya, penduduk lokal yang telah berkerumun menyempatkan diri untuk berpose di sekitar buaya. Sejak itu, Lolong telah menjadi daya tarik di taman wisata dan dewan kota dengan gembira mengumumkan bahwa kota kecil mereka akhirnya ada di peta dunia.




Pada tahun 2012, Lolong secara resmi dinyatakan sebagai buaya terbesar yang pernah tertangkap, oleh panitia Guinness World Records. Namun pada bulan februari 2013, Lolong buaya air asin terbesar di penangkaran telah meninggal di kandangnya di provinsi Agusan Bunawan Del Sur, Filipina selatan. Pemerintah setempat dan penduduk lokal sangat sedih karena kehilangan ini. Lolong membuat kota mereka dikunjungi oleh banyak turis sepanjang tahun 2012.
Sebenarnya, ada seekor buaya air asin yang lebih besar dari Lolong pernah ditemukan di Filipina dua abad yang lalu. Pada tahun 1823, seekor buaya air asin besar tewas di dekat kota Jalajala di Laguna de Bay. Buaya ini hampir 8 meter diukur dari ujung moncong ke ujung ekornya.
Dengan beratnya sekitar 2 ton, buaya raksasa ini dikatakan seberat kuda nil banteng. Diperlukan 40 orang laki-laki untuk membawa tubuhnya ke darat. Setelah dibedah, orang-orang terkejut karena menemukan tubuh kuda dalam 7 potongan.


Fakta menarik tentang buaya air asin
Lolong dan ‘kakek’ nya membuktikan bahwa ekosistem Filipina juga kaya dengan makhluk luar biasa. Buaya air asin yang nama Ilmiahnya adalah Crocodylus porosus, saat ini terancam punah di Filipina akibat perburuan tak tahu malu dari warga kota setempat. Mereka pada dasarnya berbeda dari buaya air tawar (Crocodylus mindorensis), yang lebih kecil dalam ukuran, dan spesies aligator yang tidak ada di Filipina .
Rata-rata, buaya air asin berukuran antara enam hingga tujuh meter. Buaya ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka berjemur di bawah sinar matahari atau berenang di dalam air. Sebagai bagian dari ekosistem, buaya air asin juga membantu dalam daur ulang nutrisi. Kotoran mereka menambah nilai air dan memberikan makhluk laut lainnya, pasokan makanan yang berkelanjutan .
Buaya air asin juga telah memainkan peranan utama dalam sejarah Filipina dan cerita rakyat. Dalam novel Noli Me Tangere, karya Rizal, mereka digambarkan sebagai monster laut ganas yang dapat menjungkirkan perahu hanya dengan kibasan ekor mereka.
Pemburu buaya setempat juga percaya bahwa hewan ini berfungsi sebagai tempat bersemayam roh leluhur. Bagi mereka, sifat buaya air asin dapat ditentukan dengan melihat warna mereka. Buaya hitam biasanya tempat bersemayam roh jahat, yang putih biasanya mempesona dan pertanda keberuntungan, sedangkan varietas hijau, kuning , dan merah adalah roh tengah.
Description: Lolong – Buaya Terbesar di Dunia Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Lolong – Buaya Terbesar di Dunia

Misteri Rumah Kanthil Kotagede

Rumah Kanthil atau sering disebut Omah Kanthil oleh kebanyakan warga Kotagede adalah rumah kosong yang menjadi dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara setelah on air dalam acara uji nyali “Dunia Lain” di Trans TV.
Seperti yang dikutip dari wisatamistisjogja.blogspot.com, saat kita menyusuri jalan Modorakan Kotagede, yaitu arah dari pasar Kotagede ke barat, kita akan melihat sebuah pintu kuno di sebelah kanan jalan kurang lebih 200 meter setelah kita beranjak dari Pasar Kotagede. Pintu di sisi utara Jalan Mondorakan itu dari luar hanya tampak seperti pintu garasi dari kayu yang sudah usang. Tidak tampak ada yang menarik dari pintu itu, apa lagi yang berada di balik pintu itu kira-kira. Pintu kayu lapuk tersebut terdiri dari dua daun pintu yang masing-masing lebarnya sekitar dua meter, cukup besar memang. Pada salah satu daun pintu terdapat sebuah pintu kecil, sehingga tepat jika disebut dengan pintu yang berpintu. Pintu itulah yang digunakan sebagai jalan keluar masuk ketika pintu utama ditutup.
Jika kita mencoba masuk, selepas dari pintu besar tadi terbentang jalan tanah selebar sekitar empat meter yang dibatasi oleh dinding bangunan di kedua sisinya. Jalan itu tidak panjang, sekitar lima belas meter saja, dan di ujungnya telah menanti dengan angkuhnya sebuah menara penerima/penerus sinyal salah satu operator telepon seluler berikut pagar kelilingnya yang begitu masif. Dari ujung jalan ini, untuk terus menuju ke utara harus terlebih dahulu mengitari pagar menara itu. Tepat di sisi utara pagar menara berdiri sebuah rumah tua yang jelas tidak lagi ditinggali.
Rumah tua itu saat ini letaknya memang sudah sangat terbuka. Di samping dan belakangnya langsung berbatasan dengan rumah penduduk, selain bagian depan rumah yang telah berubah menjadi menara tadi (menara itu menempati lahan bekas pendapa rumah tua itu). Namun begitu, terasa nuansa yang lain ketika mencoba mendekati rumah tua itu, apa lagi mencoba masuk ke dalamnya. Memang, menurut warga Kota Gede, rumah yang dikenal dengan nama Rumah Kanthil itu ada “penunggunya” yang dikenal dengan nama Barowo. Keangkeran rumah tua itu sudah begitu dikenal oleh warga kawasan yang sudah sangat akrab dengan organisasi Islam besar bernama Muhammadiyah itu.
Sejak sekitar hampir 5 tahun yang lalu Rumah Kanthil ini semakin populer, tidak hanya di kalangan warga Kota Gede saja, tetapi juga warga Yogyakarta pada umumnya, bahkan kota-kota lain di Jawa. Menariknya, menurut M. Natsir dari Yayasan Kanthil Kotagede, sempat ada rombongan dari luar kota Yogyakarta yang datang ke Kotagede mencarter bus wisata hanya untuk mencari Rumah Kanthil ini. Hal ini tidak lepas dari peristiwa ketika Rumah Kanthil dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar acara reality show yang populer dengan uji nyalinya, yaitu “Dunia Lain” yang ditukangi oleh Trans TV. Tak ayal lagi, banyak orang yang semakin penasaran dengan Rumah Kanthil. Kedatangan rombongan “turis” tadi menjadi salah satu dampak nyatanya.

Sejarah Omah Kanthil
Kawasan Kanthil berada sekitar 230 meter di barat laut Pasar Kotagede. Persisnya di RT 49, RW 10 Kampung Trunojayan. Nama Kanthil diambil dari nama pohon kanthil (Michelia champaka) yang pernah tumbuh di sana. Pohon kanthil ini tumbuh besar, sehingga banyak dikeramatkan orang. Di dekat pohon kanthil, ada sebuah lumpang dari batu hitam. Sama seperti pohon kanthil, lumpang itu pun dikeramatkan warga. Ada yang percaya, orang yang kakinya lumpuh jika dimandikan di lumpang tersebut bakalan bisa sembuh.
Pemilik Rumah Kanthil adalah Karto Jalal, atau sebagian warga lebih mengenalnya dengan Karto Kanthil. Ia adalah seorang saudagar kaya di Kotagede. Usaha yang digelutinya adalah batik. Ketika batik Kotagede mengalami masa keemasan di tahun 1940-1960, Karto Kanthil pun mendulang untung. Kala itu, harga jarik amat mahal. Orang rela menukarkan tanahnya yang seluas ratusan meter dengan dua atau tiga potong kain jarik. Tak heran, rumah dan tanah Karto Kanthil pun terserak di segala pelosok Kotagede.
Kalau Karto Kanthil mempunyai hajatan menikahkan anaknya, pestanya tujuh hari tujuh malam. Pengantinnya diarak keliling Pasar Kotagede. Pengantin laki-lakinya mengendarai kuda. Pengantin perempuannya naik tandu hias yang dipikul empat orang lelaki. Keluarga yang lain mengendarai kereta kuda hias. Sedangkan anak-anak yang mengiringi naik kremun (tandu kecil), di belakangnya barisan umbul-umbul, rontek bertugas sebagai pramuladi pun pria-pria pilihan, gagah-gagah berkulit kuning langsat. Pemuda-pemuda itu diambil dari kampung-kampung di Kotagede yang tergabung dalam paguyuban Susilo Mudho.
Setelah tahun 1960, usaha batik di Kotagede surut drastis, termasuk juga usaha milik Karto Kanthil. Beberapa puluh tahun kemudian, tanah-tanah Karto Kanthil satu demi satu dijual oleh ahli warisnya. Malah, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, tak jarang ahli waris menjual murah barang-barang yang masih tersisa, seperti tempat tidur besi, tanggem, daun jendela, dandang, soblok, almari, dan aneka barang remeh temeh lainnya.
Di sekitar tahun 1990 an, salah seorang menantu Karto Kantil pernah mengeluh, bahwa beberapa tanah miliknya telah dipakai oleh pemerintah tanpa seijin dirinya. Malah, di tanah yang menurut menantu tersebut adalah miliknya, telah didirikan bangunan gedung kantor pemerintah. Salah satunya adalah Balai Diklat PU di timur jembatan Winong, Kotagede. Menantu Karto Kantil tersebut mengaku pernah mengurusnya, namun karena tiadanya bukti legal formal tertulis, sang menantu tersebut akhirnya kalah.
Sebagai ruang publik, tak banyak jejak yang bisa dilacak dari pendapa Kanthil. Selain pernah menjadi tempat ibadah sholat tarawih pengajian anak-anak Komariyah Masjid Perak, pendapa Kanthil jarang sekali dimanfaatkan untuk kepentingan publik.
Nasib tragis pendapa Kanthil punya kisah tersendiri. Waktu itu di tahun 1990-an, seorang menantu dari Karto Kanthil sedang punya hajat menjual pohon mangga. Karena tukang tebangnya kurang perhitungan, ranting besar pohon itu menimpa pendapa Kanthil yang ada di dekatnya. Akibatnya, pendapa Kanthil pun miring. Karena tidak punya biaya untuk mengembalikan pendapa seperti semula, pendapa Kanthil itu dibiarkan miring dalam waktu yang lama. Keadaan ini diterkam makelar pendapa. Benar saja. Tak sampai hitungan tahun, pendapa Kanthil pun tercerabut dari tempatnya.
Kini, kawasan Kanthil telah sangat berubah. Rumah tanpa induk semang itu sedang menunggu kehancurannya. Kelabang, cacing, kalajengking, dan dhemit kini tinggal di sana. Karena dikenal angker, Rumah Kanthil pun pernah dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar acara “Dunia Lain”, yang ditayangkan oleh sebuah televisi swasta nasional.
Description: Misteri Rumah Kanthil Kotagede Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Misteri Rumah Kanthil Kotagede

Misteri Insiden Dyatlov

55 tahun yang lalu di bulan februari, bagian utara Ural menjadi tuan rumah bagi salah satu misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Misteri tersebut adalah apa yang dikenal oleh masarakat luas sebagai Dyatlov Pass Incident, yang biasanya hanya dijelaskan: Dari sepuluh pendaki yang melakukan pendakian, sembilan tewas di tengah perjalanan yang sulit dan dalam kondisi suhu yang mencapai -30 derajat Celcius. Dan inilah kisahnya seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com Tapi rincian peristiwa tersebut, yang sebagian besar didasarkan pada buku harian mereka yang terlibat mencari para korban serta catatan dari para peneliti Soviet, sungguh-sungguh mengerikan: Pada malam tanggal 2 Februari 1959, para pendaki ini tampaknya merobek tenda mereka dari dalam, dan bergerak ke area pepohonan tanpa mengenakan apa-apa kecuali apa yang mereka kenakan saat mereka berangkat tidur.
Tiga minggu kemudian, lima mayat ditemukan oleh tim pencari, ratusan meter menuruni lereng dari kamp di mana para korban bermalam. Butuh waktu dua bulan lagi bagi para pencari ​​untuk menemukan empat mayat lainnya, yang anehnya, sebagian dari mereka memakai pakaian milik teman mereka yang mayatnya telah ditemukan sebelumnya. Setelah diselidiki lebih lanjut, pakaian tersebut terkena radiasi tingkat tinggi. Disamping trauma internal yang berat, termasuk tengkorak retak dan patah tulang rusuk, yang diderita oleh beberapa anggota pendaki itu, penyelidik Rusia (sovyet saat itu) melaporkan bahwa mereka tidak bisa menemukan bukti tindak pidana dan dengan cepat menutup kasus ini.
Kelompok pendaki ini terdiri dari mahasiswa dan alumni dari Ural State Technical University, yang semuanya berpengalaman dalam ekspedisi ke pedalaman. Ekspedisi yang dipimpin oleh Igor Dyatlov (23 tahun) ini, dimaksudkan untuk mengeksplorasi lereng gunung Otorten di bagian utara dari pegunungan Ural, dan mereka berangkat pada tanggal 28 Januari 1959. Yury Yudin (satu-satunya anggota ekspedisi yang selamat) jatuh sakit sebelum mereka berhasil sepenuhnya masuk ke pedalaman, dan tetap tinggal di desa yang paling akhir mereka lalui. Sembilan lainnya melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki dan sesuai dengan foto-foto yang ditemukan oleh tim pencari, kelompok Dyatlov ini mendirikan tenda di sore hari tanggal 2 Februari di lereng gunung Ortoten.


Yuri Yudin, tengah, dipeluk oleh Lyudmila Dubinina saat ia bersiap untuk meninggalkan Yuri karena sakit. Ini justru menyelamatkan Yuri dari kematian

Gunung yang dikenal masarakat lokal, suku Mansi, sebagai Kholat Syakhl, yang sebenarnya memiliki arti “Gunung kematian”. Keputusan para pendaki untuk berkemah di lereng gunung dianggap tidak masuk akal. Kelompok ini dilaporkan hanya sekitar satu mil dari pepohonan, di mana mereka bisa menemukan setidaknya sedikit perlindungan dalam kondisi dibawah nol celcius. Mereka tampaknya tidak ingin membuang waktu, dan mendirikan tenda di lereng gunung daripada di dalam hutan yang berada lebih dibawah.
“Dyatlov mungkin tidak ingin kehilangan waktu mereka yang terbatas, atau ia memutuskan untuk berlatih berkemah di lereng gunung”, kata Yudin kepada St Petersburg Times pada tahun 2008.


Para pendaki mendirikan tenda pada 2 Februari 1959 dalam foto yang diambil dari satu rol film yang ditemukan oleh penyidik

Pendirian tenda tersebut adalah pendirian tenda terakhir mereka.. Dyatlov sebelumnya mengatakan bahwa tim nya direncanakan akan kembali pada tanggal 12 Februari tahun itu, tetapi juga mengatakan bahwa tim nya mungkin memakan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Setelah dirasa cukup lama tidak ada kabar berita dari tim tersebut maka sekitar tanggal 20 Februari tim pencari pun dikirim untuk mencari mereka dan pada tanggal 26 Februari, bekas tenda mereka ditemukan oleh tim relawan pencarian dan penyelamatan (tim SAR), masih dipenuhi dengan semua pakaian, seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup selama sisa perjalanan.


Tenda para pendaki setelah tim penyelamat menemukannya pada tanggal 26 Februari 1959. Ditemukan telah dibuka paksa dari dalam

Ketika penyelidik resmi tiba, mereka mencatat bahwa tenda telah dirobek dari dalam, dan menemukan jejak-jejak kaki dari delapan atau sembilan orang meninggalkan tenda yang mengarah ke lereng bawah ke arah pepohonan. Menurut penyelidik, sepatu dan peralatan para pendaki tertinggal, dan jejak kaki mereka mengisaratkan beberapa orang bertelanjang kaki atau tidak memakai apa-apa kecuali kaus kaki. Dengan kata lain, mereka semua tergesa-gesa keluar dari tenda mereka dan berlari melalui salju yang sedalam lutut. Anehnya ada tidak ada bukti orang lain atau permainan kotor diantara para pendaki.
Dua mayat pertama ditemukan di pepohonan, di bawah pohon pinus besar. Ingat bahwa pepohonan ini sekitar satu mil jauhnya dari tenda mereka; penyelidik menulis bahwa jejak kaki menghilang sekitar sepertiga jalan menuju ke tempat dua mayat ini, meskipun hal ini bisa saja karena cuaca dalam tiga minggu yang dibutuhkan untuk penyidik ​​tiba. Dua mayat ini hanya mengenakan pakaian dalam mereka, dan keduanya bertelanjang kaki. Menurut laporan, cabang-cabang yang patah di pohon tersebut, menunjukkan ada orang yang mencoba untuk memanjatnya. Sisa-sisa api tergeletak di dekatnya.
Tiga mayat lagi, yang salah satunya adalah Dyatlov, ditemukan tercecer di tempat-tempat antara tenda dan pohon pinus besar tersebut, dan terbaring seolah-olah mereka ingin kembali ke tenda. Salah satunya, Rustem Slobodin, tengkoraknya retak, meskipun dokter menyatakan itu non-fatal, dan investigasi kriminal ditutup setelah dokter memutuskan kelimanya meninggal karena hipotermia.
Dua bulan berlalu sampai empat mayat yang tersisa ditemukan terkubur di bawah salju setebal 4 meter di sebuah liang beberapa ratus kaki di bawah lereng dekat pohon pinus besar tersebut diatas. Dibandingkan lima mayat yang telah ditemukan sebelumnya, kondisi empat mayat ini lebih mengerikan. Keempatnya mengalami kematian traumatis, meskipun tidak ada penampilan trauma luar atau luka luar. Pertama, Nicolas Thibeaux dan Brignollel tengkoraknya retak. Alexander Zolotariov dan Ludmila Dubinina ditemukan dengan lidah dan mata mereka hilang serta tulang rusuk mereka hancur.

Ada kemungkinan bahwa empat orang ini mencari bantuan dan kemudian mereka jatuh ke liang. Tapi itu tidak menjelaskan lidah dana mata Dubinina dan Zolotariov yang hilang. Beberapa orang pada saat itu berpendapat para pendaki ini telah diserang oleh suku Mansi, namun laporan koroner pada saat itu menyatakan bahwa untuk membuat trauma seperti yang ditemukan pada korban, dibutuhkan kekuatan lebih besar dari kekuatan manusia, terutama mengingat tidak ada trauma luar yang menyertainya.
“Itu sama dengan efek dari kecelakaan mobil”, kata Boris Vozrozhdenny, salah satu dokter pada kasus ini, menurut dokumen yang dibuka kembali oleh Times.
Dan anehnya lagi, empat mayat yang ditemukan terakhir ini memakai pakaian/peralatan lebih lengkap daripada lima mayat yang ditemukan sebelumnya. Jadi tampaknya mereka telah mengambil pakaian dari teman mereka yang mungkin telah mati lebih dahulu dari mereka, dan kemudian melanjutkan perjalanan tanpa tujuan mereka. Zolotariov, misalnya, ditemukan mengenakan mantel dan topi Dubinina, sedangkan Dubinina sendiri kakinya dililit potongan celana wol dari yang dipakai temannya yang mayatnya ditemukan di pohon pinus. Untuk menambah misteri, pakaian-pakaian yang dikenakan oleh keempat orang ini mengandung radioaktif.
Radioaktivitas yang ditemukan pada pakaian memang sulit untuk dijelaskan, tapi selebihnya, kasus ini dapat dijelaskan dengan penjelasan yang lebih masuk akal daripada penjelasan yang melibatkan alien atau percobaan nuklir pada orang yang sering dikaitkan pada peristiwa ini. Penjelasan yang paling mungkin adalah longsoran salju atau avalanche menimpa tenda mereka dan mengubur mereka dalam longsoran salju. Ini akan menjelaskan mengapa tenda dirobek dari dalam dan sangat mungkin beberapa pendaki mendapat trauma akibat longsoran. Dan kemungkinan para pendaki terkubur lumayan lama sebelum mereka berhasil keluar sendiri dan itulah yang mungkin menyebabkan beberapa dari mereka mengalami hipotermia, dan mungkin delirium. Hipotermia yang mereka alami inilah yang mungkin menyebabkan mengapa lima mayat dari mereka berada di berbagai tempat antara tenda dan pohon pinus besar. Pertanyaannya adalah: Mengapa 4 orang lainnya tidak kembali ke tenda untuk mengambil peralatan yang diperlukan?


Avalanche

Sekali lagi, tanpa memperhitungkan adanya radioaktivitas yang ditemukan, skenario diatas adalah yang paling masuk akal.
Namun radioaktivitas yang ditemukan benar-benar aneh, seperti penyelidikan itu sendiri. Dokumen yang berkaitan dengan kasus itu disegel setelah setelah kasus tersebut ditutup (dinyatakan selesai), dan tidak pernah dibuka sampai sekitar tahun 1990-an. Penyebab insiden tersebut masih spekulatif, dan wawancara yang terhadap peneliti utama insiden itu, Lev Ivanov, pada waktu dokumen yang disegel dibuka kembali, malah memperlihatkan betapa aneh dan misteriusnya kasus ini.
Ivanov adalah orang yang pertama kali menemukan bahwa tubuh dan pakaian yang ditemukan semua radioaktif, dan mengatakan bahwa Geiger counter (detektor radiasi) yang dibawanya berbunyi menggila di lokasi sekitar perkemahan. Dia juga mengatakan bahwa para pejabat Soviet mengatakan kepadanya pada waktu itu untuk menutup kasus tersebut, meskipun ada laporan bahwa “bola terbang terang” telah dilaporkan di daerah tersebut pada bulan Februari dan Maret tahun 1959.
“Saya menduga pada saat itu dan saya hampir yakin sekarang bahwa bola terbang terang tersebut memiliki koneksi langsung terhadap kematian para pendaki itu”, kata Ivanov kepada koran Kazakh Leninsky dalam sebuah wawancara.
Kelompok siswa lain yang berkemah sekitar 30 mil dari kelompok pendaki, melaporkan penampakan serupa di waktu itu. Dalam kesaksian tertulis, salah seorang siswa mengatakan bahwa ia melihat “obyek melingkar bersinar terbang di atas desa dari barat daya ke timur laut. Cakram bersinar itu terlihat seukuran bulan purnama, bercahaya putih kebiruan dikelilingi oleh lingkaran cahaya biru. Lingkaran cahaya biru tersebut berkelebat seperti kilatan petir. Ketika obyek tersebut menghilang di balik cakrawala, langit menyala terang di tempat itu selama beberapa menit”.
Teori yang paling terkemuka, mengingat kerahasiaan kasus, radioaktivitas, dan penampilan beberapa mayat yang dilaporkan terlihat “sangat kecokelatan” oleh seorang anak muda yang menghadiri beberapa pemakaman mereka, adalah bahwa kelompok pendaki itu entah bagaimana menjadi ajang pengujian teknologi militer Soviet. Tapi, teori ini tetap tidak dapat menjelaskan apa yang menyebabkan trauma pada beberapa pendaki.
Ada kemungkinan bahwa salah satu anggota melihat beberapa cahaya yang menakutkan di langit dan semua orang panik, kemudian lari, tapi tidak pernah ada bukti ledakan di daerah tersebut, yang mengesampingkan semacam uji coba nuklir atau sesuatu yang sejenis. Tapi meskipun demikian, itu tidak menjelaskan patah tulang dan tengkorak retak. Beberapa trauma memang dapat dijelaskan oleh jatuh ke dalam liang, tapi ingat, Slobodin tengkoraknya retak dan ditemukan terbaring menghadap kembali ke tenda.
Fakta bahwa sisa-sisa api ditemukan, menunjukkan bahwa beberapa pendaki masih memiliki kontrol terhadap emosi mental mereka, dan psikosis memang bukanlah efek dari paparan radiasi, tapi itu tidak menjelaskan mengapa para pendaki tersebut berjalan tanpa membawa peralatan apapun dari tenda mereka.
Skenario yang lebih sederhana dan mungkin terbaik adalah: Para pendaki terkubur di longsoran salju, dan dalam keadaan hipotermia delirium, bergegas pergi mencari bantuan. Longsoran salju yang sangat kuat, kemungkinan bisa mengakibatkan jenis trauma yang beberapa dari pendaki tersebut alami.
Namun, kurangnya kejelasan dari penyelidikan awal karena begitu cepatnya kasus ini ditutup, telah membuat insiden ini sebagai target favorit dari teori konspirasi dan pemburu alien. Dan memang insiden ini cukup aneh dan misterius ….
Description: Misteri Insiden Dyatlov Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Misteri Insiden Dyatlov

Misteri Pasar Bubrah Gunung Merapi

Ada wilayah di lereng gunung Merapi yang terkenal dengan keangkerannya. Wilayah tersebut adalah wilayah yang disebut sebagai Pasar Bubrah atau yang dikenal warga sebagai tempat Pasar Setan/Jin maupun yang dipercaya tempat dedemit (makhluk astral) bertransaksi di kawasan puncak Merapi.
Mitos lainnya, Pasar Bubrah atau Pasar Setan ini merupakan pusat kerajaan setan atau dedemit penguasa Merapi. Sehingga, bila seorang pendaki berbuat atau berpikiran tidak bersih, maka akan secara tidak sengaja disesatkan atau dibuat bingung para makhluk halus penguasa Merapi.
Seperti yang dikutip dari wisatamistisjogja.blogspot.com penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh makhluk halus. Di mana tempat itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati.
Penduduk maupun pendaki Merapi pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain itu ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang menghuni disitu.

Selain kawasan Pasar Bubrah, tempat yang angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama Pasar Bubrah yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker.
Pasar Bubrah tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.
Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu ‘Nyai Gadung Melati’ yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.
Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.
Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu Hutan Patuk Alap-alap dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, Hutan Gamelan dan Bingungan serta Hutan Pijen dan Blumbang. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.
Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.
Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.
Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi.
Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.
Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.
Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Almarhum Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Yang kini telah digantikan oleh Mas Asih sang anak sebagai pewaris juru kunci Merapi.
Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.
Description: Misteri Pasar Bubrah Gunung Merapi Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Misteri Pasar Bubrah Gunung Merapi

Inilah Selfie Paling Berbahaya di Dunia?




Seorang pria Australia mungkin telah membuat salah satu selfie terbaik yang pernah ada. Video yang ia posting di YouTube menunjukkan dia mengemudi mobilnya mendekati Dust Devil (puting beliung gurun) yang besar …
“Dia (dust devil) benar-benar telah terbentuk,” kata seorang pria dengan aksen Aussie medok dalam video di menit pertama. “Ini salah satu yang terbesar yang pernah kulihat dalam beberapa tahun”, ia terkekeh.
Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru pria tersebut terlihat keluar dari mobilnya dan berlari menuju dust devil sambil membawa kameranya. Saat ia semakin dekat ia berteriak: ‘Jesus Christ that is huge!’, sambil mengarahkan kameranya ke mukanya dengan latar belakang angin yang berputar tersebut. Setelah itu diapun berlari berusaha kembali ke mobilnya, sebelum dust devil menerjangnya. Video terlihat berputar-putar saat pria tersebut berlari panik kembali ke kendaraannya setelah selfie nya yang berbahaya.
Dengan terengah-engah ia tampaknya naik ke mobil tepat saat dust devil mencapainya. Dust devil terlihat dari jendela mengelilingi mobilnya, dan sejenak video terlihat gelap sebelum dust devil tersebut lewat. “Oh my God, oh my God”, desah pria tersebut saat mengatur ulang kamera untuk menunjukkan wajahnya.
Video ini diupload oleh Terry Tufferson, orang yang sama yang mengupload gambar seorang pria melawan seekor hiu putih besar di Sydney Harbour. Tidak mengherankan, beberapa pengguna YouTube mempertanyakan keaslian video ini.
Description: Inilah Selfie Paling Berbahaya di Dunia? Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Inilah Selfie Paling Berbahaya di Dunia?