Created (c) by Princexells Seyka (Princelling Saki)

Cerita Lucu Tukang Ojek Dan Wanita Tua


Cerita Lucu Tukang Ojek Dan Wanita Tua

Pada suatu malam, Anto seorang tukang ojek yang sedang menunggu pelanggan lagi duduk termenung.kemudian datanglah seorang wanita tua yang mendatangi saya..

Wanita: Mas, ojek dong..


Anto: Iya bu.. Kedaerah mana ya bu?

Wanita: Ikut aja, nanti saya tunjukin jalannya..


Anto: Baik bu..

Kemudian mereka pun berangkat menuju kerumah sang wanita tua tersebut..

Wanita: Mas, belok kiri..
Anto: Baik bu..
Wanita: Kanan mas..
Anto: Oke..
Wanita: Lurus mas, trus belok kanan lagi dan ambil jalan kiri setelahnya... Turun gunung ada jalan kekiri, setelah lewat sungai kanan ya..
Anto: Rumah ibu yang mana?
Wanita: Masih lurus lagi mas, pertigaan belok kanan, ada gang kecil disamping kuburan itu rumah saya..
Anto: Oh iya bu..

Akhirnya sampailah mereka kerumah wanita tua..
Wanita: Berapa mas?
Anto diam saja ketika ditanya..

Wanita itu kemudian memberikan uang sebanyak 5 ribu rupiah.. Namun tiba-tiba
Anto terlihat sedih dan menangis.

Wanita: Kenapa mas? kurang uangnya? kalo kurang saya tambah 10 ribu ya..

Namun
Anto malah menangis lebih kencang lagi.

Wanita: Masih kurang mas? jangan nangis gitu dong mas.. Ini 50 ribu buat mas dan langsung pulang aja soalnya udah mulai gelap..
Anto pun bertambah kencang menangis.

Wanita: Ada apa sih mas?
Anto: Sebenarnya saya baru pertama kali ngojek bu, saya lupa jalan pulangnya.


Description: Cerita Lucu Tukang Ojek Dan Wanita Tua Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Cerita Lucu Tukang Ojek Dan Wanita Tua

Air Terjun Alami yang Ditelan oleh Danau Buatan

Hanya dua puluh kilometer di utara air terjun Iguazu, di sepanjang perbatasan antara Brasil dan Paraguay, terletak keajaiban alam lainnya yang bahkan lebih spektakuler daripada Iguazu, yang disebut Air Terjun Guaira atau Seven Falls (Sete Quedas dalam bahasa Portugis). Air Terjun Guaira adalah serangkaian 18 air terjun besar di Sungai Paraná terletak pada titik di mana sungai dipaksa mengalir melalui ngarai sempit.
Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang jadi Guru, Pada kepala air terjun, sungai menyempit tiba-tiba dari lebar sekitar 380 meter menjadi sekitar 60 meter, menciptakan salah satu air terjun yang paling kuat di bumi dengan laju alir dua kali lipat dari air terjun Niagara. Air yang jatuh menghantam batuan menciptakan suara yang memekakkan telinga yang bisa didengar dari jarak 30 km jauhnya. Bertahun-tahun, air terjun guaira telah menjadi daya tarik wisata dan menjadi favorit di antara penduduk setempat, sampai tahun 1982 ketika militer Brasil meledakkan bebatuan di mana air jatuh untuk menciptakan reservoir bagi bendungan Itaipu (Itaipu Dam) yang baru dibangun.



Itaipu Dam adalah pembangkit listrik tenaga air yang terbesar yang beroperasi dalam hal produksi energi tahunan, menghasilkan hampir 100 Tera Watt Jam listrik setiap tahunnya, yang menyumbang 75% dari listrik yang dikonsumsi oleh Paraguay dan 17% dari yang dikonsumsi oleh Brazil. Untuk membangun bendungan besar seperti Itaipu, maka beberapa pengorbanan harus dibuat, dan salah satunya adalah membanjiri dan menenggelamkan air terjun Guaira.
Selama sebulan sebelum guaira ditenggelamkan, ribuan wisatawan berbondong-bondong ke daerah itu untuk melihat air terjun untuk terakhir kalinya. Ketika sekelompok wisatawan yang antusias berjalan di atas jembatan gantung yang melintasi sungai parana di area Guaira, jembatan gantung tersebut runtuh karena kelebihan beban dan mengakibatkan kematian 32 orang.



Saat air mulai naik, ratusan orang berkumpul untuk berpartisipasi dalam guarup, ritual adat untuk mengenang air terjun. Penenggelaman berlangsung selama 14 hari, dilakukan saat musim hujan ketika level air sungai Paraná tinggi. Pada tanggal 27 Oktober 1982, reservoir ini sepenuhnya terbentuk dan air terjun pun lenyap. Pemerintah Brazil kemudian men-dinamit bebatuan di area air terjun yang telah terendam air, untuk lebih memudahkan navigasi yang lebih aman di sungai.
Direktur perusahaan yang membangun bendungan, kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, “Kami tidak menghancurkan air terjun. Kami hanya akan mentransfernya ke Itaipu Dam, yang spillway nya akan menjadi pengganti keindahan air terjun Guaira”.




Sebelum ditenggelamkan


Setelah tenggelam


Bendungan Besar Itaipu
Description: Air Terjun Alami yang Ditelan oleh Danau Buatan Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Air Terjun Alami yang Ditelan oleh Danau Buatan

Heboh Penampakan Kepiting Raksasa Crabzilla

Whitstable, sebuah kota kecil di pinggir pantai Inggris, terkenal oleh hidangan lautnya. Setelah munculnya sebuah foto mencengangkan belum lama ini, mungkin semakin banyak orang akan tertarik mengunjungi Whitstable.
Foto fenomenal itu, yang telah diunggah ke internet, memperlihatkan seekor kepiting raksasa berukuran hampir 50 meter yang berenang di perairan dangkal pinggir dermaga.
Seperti yang dikutip dari metronews.com, Sebagian orang menyebutnya sebagai monster kepiting atau Crabzilla sebagian lainnya bersikap skeptis dan menyebutnya sebagai sebuah hoax. Foto ini di-posting di Weird Whitstable, situs dunia maya yang mengoleksi foto-foto aneh.
Dari bentuknya, Crabzilla terlihat seperti kepiting yang biasa ditemukan di Inggris. Kepiting ini dapat tumbuh hingga sepanjang 12,7 sentimeter.
“Awalnya saya kurang dapat melihat foto itu dengan jelas. Namun setelah diteliti, terlihat seperti kepiting raksasa dengan capit besar,” ucap Quinton Winter, pemilik situs Weird Whitstable.
“Saya berpikir foto ini adalah tumpukan pasir berbentuk aneh, tapi ternyata bukan,” tambah dia.
Spesies kepiting terbesar di dunia saat ini adalah kepiting laba-laba Jepang, dapat memiliki panjang tubuh hingga 30 sentimeter.
Description: Heboh Penampakan Kepiting Raksasa Crabzilla Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: Heboh Penampakan Kepiting Raksasa Crabzilla

St. Pierre – Surga yang Menjadi Neraka

Gunung berapi yang kurang terkenal, Gunung Pelee, menjulang anggun di dekat kota St Pierre di Pulau Martinique, Karibia Perancis. Kota St Pierre dahulunya menunjukkan kemegahan kota kolonial yang hidup, dan dikenal sebagai “Paris dari Hindia Barat.” Dengan Cottage yang berubin merah, jalan-jalan yang lebar dan vegetasi tropis, kota yang makmur ini dikenal keindahannya.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Tentu saja sebagai kota penghasil rum minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi) banyak bar-bar dan rumah-rumah bordil disana. Sensus resmi tahun 1894, penduduk St Pierre adalah sekitar 20.000 jiwa. Meskipun sebagian besar adalah Martiniquans (pribumi) asli, kekayaan dan kekuasaan politik dikendalikan sebagian besar oleh keluarga Creole dan pejabat kolonial Perancis dan beberapa pegawai negeri sipil. Tidak seorangpun pada saat itu bisa meramalkan horor yang akan terjadi di surga tropis ini dengan kebangkitan Gunung Pelee pada musim semi tahun 1902.

Surga yang Berubah Menjadi Neraka
Meskipun di Januari 1902 Gunung Pelee mulai menunjukkan peningkatan mendadak dalam aktivitas fumarol, masyarakat sekitarnya hanya menunjukkan sedikit perhatian. Namun gunung mulai mendapat perhatian pada tanggal 23 April ketika ledakan kecil dimulai di puncak gunung berapi. Selama beberapa hari berikutnya, St Pierre diguncang gempa vulkanik, mandi dalam abu, dan diselimuti awan tebal gas belerang.


St Pierre sebelum Letusan

• Pada tanggal 25 April, gunung memancarkan awan besar yang mengandung batu dan abu dari puncak, di mana Étang Sec – sebuah cekungan – terletak. Materilal vulkanik yang dikeluarkan tidak menyebabkan kerusakan yang bermakna.
• Pada tanggal 26 April, daerah itu ditaburi oleh abu vulkanik dari letusan berikutnya; otoritas publik masih tidak melihat alasan untuk khawatir.
• Pada tanggal 27 April, beberapa ekskursionist naik gunung dan melihat Etang Sec telah terisi dengan air, membentuk danau dengan diameter 180 meter. Ada kerucut puing-puing vulkanik setinggi 15 meter di satu sisi, yang mengairi danau dengan aliran air mendidih. Suara menyerupai kuali dengan air mendidih terdengar dari bawah tanah. Bau yang kuat dari belerang mencapai seluruh kota, 4 mil jauhnya dari gunung berapi, menyebabkan ketidaknyamanan kepada orang-orang dan kuda.
• Pada tanggal 30 April, sungai Roxelane dan Riviere des Peres meluap, membawa batu-batu dan pohon-pohon dari puncak gunung. Desa-desa Precheur dan Ste. Philomene menerima aliran abu.
• Pada pukul 11:30 tanggal 2 Mei, gunung menghasilkan ledakan keras, gempa bumi, dan pilar besar asap hitam yang pekat. Abu dan batu apung halus menutupi bagian utara seluruh pulau. Ledakan terus terjadi dalam interval 5-6 jam. Hal ini menyebabkan koran lokal Les Colonies untuk menunda piknik ke gunung, yang rencananya dilaksanakan tanggal 4 Mei. Vegetasi dan fauna mulai sekarat karena kelaparan dan kehausan, karena sumber-sumber air dan makanan yang terkontaminasi dengan abu.
• Pada hari Sabtu, 3 Mei angin meniup awan abu ke utara, mengurangi situasi buruk di St Pierre. Hari berikutnya jatuhnya abu lebih intensif, dan komunikasi antara St Pierre dan distrik Precheur putus. Awan abu itu begitu padat sehingga kapal pesisir takut untuk berlayar melaluinya. Banyak warga memutuskan untuk mengungsi, sehingga kapal uap melebihi kapasitas, dan tak jadi berlayar. Hewan-hewan, baik yang liar maupun peliharaan menjadi gelisah; Guérin Sugar Works, dua km sebelah barat laut dari St Pierre, diserbu oleh segerombolan besar semut bintik dan lipan besar, yang beberapa kuda hiruk-pikuk dan memaksa para pekerja menaklukkan serangga-serangga tersebut. Di St Pierre, ratusan ular fer-de-lance merayap melalui jalan-jalan, menggigit siapa saja yang mereka temui hingga menewaskan 50 orang (belum termasuk hewan peliharaan yang juga mereka gigit) sehingga tentara dikerahkan untuk membunuh ular-ular tersebut.


Ular fer-de-lance

• Pada hari Senin, 5 Mei gunung tampaknya sedikit tenang; Namun, pada sekitar pukul 01:00, laut tiba-tiba surut sekitar 100 meter dan kemudian bergegas kembali, membanjir kota, dan awan asap besar muncul arah barat gunung. Salah satu dinding kawah Etang Sec runtuh dan mendorong massa air mendidih dan lumpur, atau lahar, ke sungai Riviere Blanche. Air panas dicampur dengan puing-puing piroklastik menghasilkan lahar besar menuruni lereng dengan kecepatan hampir 100 kilometer per jam. Lahar besar mengubur segala sesuatu yang dilaluinya. Dekat muara sungai, utara dari St Pierre, lahar ini menyerbu penyulingan rum, menewaskan 23 pekerja. Lahar terus ke laut, di mana ia menghasilkan tsunami setinggi tiga meter yang membanjiri daerah dataran rendah di tepi St Pierre.

PEMILU

Para penduduk menjadi semakin stres, menyebabkan banyak yang untuk mempertimbangkan meninggalkan St Pierre ke kota kedua Martinique, Fort-de-France. Namun, Gubernur Louis Mouttet telah menerima laporan dari komite yang naik ke gunung berapi tersebut untuk menilai bahaya. Satu-satunya ilmuwan dalam kelompok itu adalah seorang guru sekolah menengah setempat. Laporan tersebut menyatakan bahwa “tidak ada aktivitas Gunung Pelee yang dapat memberi ancaman yang signifikan bagi kota St Pierre. Gubernur menyimpulkan bahwa keamanan St Pierre benar-benar terjamin.
Laporan ini mengurangi kekhawatiran publik, dan memberi harapan kepada pejabat kota yang sangat cemas bahwa pemilu di kota yang rencananya dilaksanakan tanggal 11 mei tidak jadi dilaksanakan. Gubernur Mouttet meyakinkan editor konservatif dari koran harian Les Colonies untuk mengecilkan bahaya gunung berapi, dan untuk memimpin upaya yang mendorong orang untuk tidak mengungsi ke Fort-de-France. Namun, beberapa warga tetap ingin meninggalkan kota. Hal ini mendorong Gubernur Mouttet untuk mengirim pasukan untuk berpatroli jalan yang menuju ke Fort-de-France, dengan perintah untuk mengembalikan pengungsi yang mencoba untuk meninggalkan kota. Berdasarkan artikel yang muncul di Les Colonies, banyak orang-orang di pedesaan berbondong-bondong ke St Pierre berpikir bahwa kota ini adalah tempat yang paling aman untuk mengunsi. Populasi membengkak menjadi sekitar 30.000 orang, dan hampir semuanya akan binasa dalam letusan dahsyat tanggal 8 Mei.

Letusan 8 Mei 1902

Pemilihan yang dijadwalkan 11 Mei pun akhirnya tidak pernah terjadi. Laporan yang dikeluarkan oleh komite investigasi pada tanggal 5 Mei, gagal untuk menyadari potensi bahaya dari takik besar berbentuk V di sekitar kawah puncak. Takik tersebut seperti moncong senapan kolosal yang mengarah langsung ke St Pierre yang terletak empat mil di bawahnya.
Pada sekitar 07:50 pada tanggal 8 Mei, gunung berapi meletus dengan raungan memekakkan telinga. Awan hitam besar terdiri dari gas super panas, abu dan batu berguling (inilah awan piroklastik atau wedhus gembel, namun belum dikenal oleh ilmu pengetahuan saat itu) ke sisi selatan Gunung Pelee dengan kecepatan lebih dari 100 km per jam, jalurnya diarahkan oleh takik berbentuk V di puncak.
Dalam waktu kurang dari satu menit awan hitam besar itu melanda St Pierre dengan kekuatan badai. Ledakan itu cukup kuat hingga membawa patung seberat tiga ton bergerak sejauh enam belas meter dari tempat asalya. Dinding gereja setebal satu meter tertiup langsung menjadi puing-puing dan rangka-rangka besi pun membengkok. Panas yang membakar dari awan memicu kebakaran besar. Ribuan barel rum yang disimpan di gudang kota ini meledak, menciptakan sungai api dari cairan yang menyala melalui jalan-jalan dan ke laut.
Awan terus maju hingga ke pelabuhan di mana ia menghancurkan setidaknya dua puluh kapal yang berlabuh. Kekuatan badai ledakan membalikkan kapal uap besar Grapple, dan panasnya menghanguskan kapal layar amerika, Roraima, membunuh sebagian besar penumpang dan awak. Kapal Roraima hanya beberapa jam tiba disana sebelum letusan terjadi. Orang-orang di atas kapal yang agak jauh dari pantai hanya bisa menyaksikan dengan ngeri, awan besar hitam itu turun dan memusnahkan kota St Pierre. Dari ~ 30.000 orang di St Pierre, hanya ada dua orang yang diketahui selamat.


Kota St Pierre Setelah Letusan Gunung Pelee

Sebuah kapal perang tiba menuju pantai di sekitar 12:30, tapi karena hawa yang sangat panas mencegah pendaratannya sampai sekitar 03:00. Kota ini terbakar hingga beberapa hari lagi. Daerah hancur oleh awan piroklastik mencakup sekitar 8 mil persegi, dengan kota St Pierre di pusatnya. Awan piroklastik tersebut diperkirakan mencapai suhu 1.000 °C.

Mereka yang Selamat
Meskipun hanya dua orang yang lolos selamat di St Pierre, sebenarnya ada korban ditemukan masih bernyawa lainnya dari jauh di pinggiran kota dan dari beberapa kapal yang tertambat di pelabuhan. Beberapa korban tewas mungkin langsung meninggal semata-mata oleh kekuatan ledakan, tetapi sebagian besar meninggal dalam beberapa detik setelah terlanda aliran piroklastik. Tenggorokan dan paru-paru sebagian besar almarhum yang menyengat dan tubuh mereka terbakar.
Pembuat Sepatu

Seorang pembuat sepatu muda, Léon compere-Leandre, sedang duduk di depan pintu rumahnya ketika awan panas datang. Meskipun kondisinya mengalami luka bakar sangat parah, namun ia selamat dan tetap mellanjutkan hidupnya, sebagian karena kesehatannya yang baik, tetapi juga karena rumahnya berada di tepi aliran piroklastik. Berikut adalah pengalamannya, dalam kata-katanya sendiri:
“Saya merasakan angin bertiup mengerikan, bumi mulai bergetar, dan langit tiba-tiba menjadi gelap. Aku berbalik untuk masuk ke dalam rumah, dengan kesulitan besar saya naik tiga atau empat anak tangga yang memisahkan saya dari kamar saya, dan saya merasa lengan dan kaki terbakar, juga tubuh saya. Saya terjatuh di atas meja. Pada saat ini empat orang lainnya mencari perlindungan di kamar saya, menangis dan menggeliat dengan rasa sakit, meskipun pakaian mereka tidak menunjukkan ada tanda-tanda yang telah disentuh oleh api. Setelah 10 menit, salah seorang dari mereka, gadis muda Delavaud, berusia sekitar 10 tahun, jatuh tewas, … yang lainnya pun menyusul. Saya bangun dan pergi ke ruangan lain, di mana saya menemukan ayah Delavaud, masih berpakaian dan berbaring di tempat tidur, tewas dan berwarna ungu, tapi dengan pakaian masih utuh. Hampir gila karena panas, saya menjatuhkan diri ke tempat tidur, dan menunggu kematian. Kesadaran saya kembali ke saya dalam mungkin satu jam, ketika aku melihat atap terbakar. dengan kekuatan yang tertinggal dari kaki, kaki saya yang berdarah dan ditutupi dengan luka bakar, saya berlari ke Fonds-Sait-Denis, enam kilometer dari St Pierre.”

Narapidana

Seorang lainnya yang selamat di St Pierre adalah seorang buruh pelabuhan 25 tahun bernama Louis-Auguste Cyparis, yang dijuluki “Samson”. Pada awal April, Samson dimasukkan ke dalam penjara karena melukai salah seorang temannya dengan belati. Menjelang akhir masa hukumannya, ia melarikan diri dari hukuman kerja nya, berdansa sepanjang malam, dan kemudian menyerahkan diri ke pihak berwenang keesokan harinya. Untuk ini, ia dijatuhi hukuman kurungan selama seminggu di sebuah bangunan batu kecil (mirip bunker) yang paling kuat dan tebal di St Pierre. Pada tanggal 8 Mei dia sendirian di penjara dengan hanya lubang lubang kecil di atas pintu. Sambil menunggu sarapan, selnya menjadi gelap dan ia berjuang melawan hembusan intens udara panas bercampur dengan abu yang masuk melalui lubang kecil tersebut. Dengan menahan nafas dan rasa sakit, ia berusaha menutupi lubang tersebut. Setelah beberapa saat, panas mereda. Dia sendiri mengalami luka bakar, namun berhasil bertahan hidup selama empat hari sebelum ia diselamatkan oleh para penyelamat yang menjelajahi reruntuhan St Pierre. Setelah ia sembuh, ia menerima pengampunan dan akhirnya bergabung dengan Barnum & Bailey Circus, di mana ia melakukan tur dunia dengan julukan “Lone Survivor St Pierre.”

Menara Besar Pelée

Menara lava felsic megah ini dihasilkan pada tahap memudarnya
letusan Gunung Pelee tahun 1902.


Menara Pelée diambil bulan Oktober tahun itu, sebuah kubah lava menjulang dari lantai kawah. Ini tumbuh selama satu tahun dan memadat menjadi poros raksasa dalam bentuk sebuah obelisk. Menara ini telah digambarkan oleh banyak orang sebagai kubah lava paling spektakuler yang pernah dihasilkan dalam sejarah tercatat. Itu 100-150 meter tebalnya pada bagian dasar dan menjulang setinggi lebih dari 300 meter di atas dasar lantai kawah. Kadang-kadang naik pada tingkat yang luar biasa, hingga 15 meter/ hari. Kubah besar lava ini dikenal sebagai “Menara Pelee.” Pada malam hari monolit megah ini ditandai dengan jejak retak pijar merah dari lava yang masih panas di bagian dalamnya.
Pada ukuran maksimum, Menara Pelee dua kali tinggi Monumen Washington dan volumenya sama dengan Piramida Besar (Cheops) Mesir. Akhirnya menjadi tidak stabil dan runtuh ke dalam tumpukan puing vulkanik, Maret 1903, setelah 11 bulan pertumbuhan. Tidak ada ahli geologi yang pernah menyaksikan munculnya suatu objek seperti ini sebelumnya.
Description: St. Pierre – Surga yang Menjadi Neraka Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: St. Pierre – Surga yang Menjadi Neraka

10 Bencana Alam Paling Aneh

Bencana Alam bukanlah hal yang baru. Bencana alam telah mempengaruhi jalannya sejarah sepanjang zaman, menyebabkan kelaparan, hilangnya nyawa, dan dalam kasus yang ekstrim, hancurnya seluruh peradaban. Beberapa bencana alam dirasa cukup aneh oleh manusia baik itu dalam skalanya yang luarbiasa besar ataupun karena jenis bencana tersebut baru diketahui oleh manusia. Ya, kata aneh disini dikarenakan terjadinya diluarkebiasaan atau baru terjadi atau belum/tidak pernah ada bencana seperti itu sebelumnya yang diketahui.
Dibawah ini ada 10 Bencana Alam yang Paling Aneh di Dunia seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com

Danau Nyos, Kamerun, 1986

Dokter dan ilmuwan bingung ketika pada bulan Agustus 1986 hampir 1.800 orang ditemukan tewas, serta ribuan ternak dan binatang liar. Tubuh mereka tidak menunjukkan tanda-tanda trauma lahiriah, penyakit, atau racun yang dapat menyebabkan kematian. Dengan bantuan dari para ilmuwan dari seluruh dunia, ditetapkan bahwa danau setempat yang bernama danau Nyos yang terbentuk di kawah gunung berapi punah adalah penyebab yang paling mungkin dari kematian ribuan manusia dan binatang ternak tersebut Danau Nyos. 

Ledakan Tunguska, Rusia, 1908

Di pagi hari bulan Juni 1908, sebuah ledakan mengguncang padang gurun Siberia, membakar dan meratakan ribuan mil area hutan. Namun, meskipun intensitas ledakan, diperkirakan 1.000 kali kekuatan bom yang jatuh di Hiroshima, tidak ada bukti dari apa yang menyebabkannya. Para ilmuwan menduga sebuah komet atau asteroid memasuki atmosfer yang harus disalahkan, tetapi tidak ada kawah dampak dan tidak ada fragmen dari komet atau asteroid yang pernah ditemukan, sehingga sulit untuk membuktikan secara definitif teori mereka. Namun akhir tahun 2001 para ilmuwan akhirnya mampu memecahkan misteri ledakan ini. Sebuah tim ilmuwan Italia menggunakan catatan seismik, literatur publik dan laporan saksi mata untuk dapat menentukan orbit yang mungkin untuk objek yang meledak, yang menyebabkan mereka meyakini bahwa obyek tersebuk kemungkinan adalah asteroid low-density yang meledak di udara, tidak pernah mencapai tanah tetapi mengirimkan gelombang kejut mematikan sebagai gantinya. 

Tahun tanpa musim panas, Eropa, Amerika dan Kanada, 1816

Pada hari ini dimana pemanasan global dan gelombang panas terjadi, mungkin akan sulit untuk membayangkan musim panas di mana salju masih jatuh pada bulan Juni, tetapi bagi mereka yang tinggal di Amerika Serikat timur laut, Kanada dan Eropa pada tahun 1816, itu adalah kenyataan. Masalah dimulai pada awal Mei ketika salju membuat banyak tanaman termasuk tanaman pangan yang seharusnya tumbuh, menjadi mati dan pada gilirannya menyebabkan kekurangan pangan terutama di Eropa di mana kelaparan menyebabkan kerusuhan. Dua badai salju besar menyelimuti Kanada dan New England pada bulan Juni, yang menyebabkan kerugian besar pada kehidupan, dan cuaca dingin bertahan sampai Juli dan Agustus, meskipun suhu sering berganti-ganti antara dingin dan panas bahkan dalam hari yang sama. Gelombang dingin aneh ini terutama disebabkan oleh letusan gunung berapi (tambora, indonesia) yang terjadi pada tahun sebelumnya, menyebabkan apa yang dikenal sebagai musim dingin vulkanik. Jadi hati-hati apa yang Anda inginkan pada saat Anda ingin hari-hari musim panas Anda menjadi dingin.

Letusan Krakatau, Indonesia, 1883

Krakatau adalah salah satu gunung berapi yang paling aktif di dunia, dan pada tahun 1883 meletus dan menjaadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah, menewaskan puluhan ribu dengan abu, lava, dan tsunami besar. Gunung berapi meletus setiap saat, jadi mengapa letusan krakatau ini aneh? Keanehannya pada ledakannya. Suara letusan ini tercatat sebagai suara paling keras yang pernah dilaporkan sepanjang sejarah dan terdengar hampir 2.000 mil jauhnya di Perth, Australia. Masuk akal bahwa letusan krakatau sangat keras, karena letusan itu juga menghancurkan dua pertiga dari pulau Krakatau serta menghancurkan pulau-pulau kecil lainnya disekitarnya. Dampak ledakan itu dirasakan di seluruh dunia, dengan gelombang, debu dan gelombang kejut yang bepergian jauh dari situs. Juga menarik untuk dicatat adalah bahwa debu dari ledakan menyebabkan apa yang disebut “bulan biru” terus-menerus selama hampir dua tahun. 

Hailstorms Mematikan, Bangladesh, 1986

Hailstorm atau Hujan es bukanlah kejadian yang langka, tetapi sebagian besar hujan es hanya membawa es-es berukuran kecil dan relatif tidak berbahaya. Namun sesekali dalam kondisi yang tepat, es yang dihasilkan dapat mencapai lingkar yang jauh lebih besar. Hujan es terbesar yang pernah tercatat adalah hujan es yang jatuh di kota Gopalganj, Bangladesh pada musim semi 1986, mencapai ukuran lebih dari 2 kilogram, menewaskan lebih dari 92 orang dan ternak, kerusakan pada pohon-pohon, menghancurkan tanaman, dan meratakan tempat tinggal. Meskipun Anda mungkin pernah menemukan hujan es dengan ukuran besar dalam hidup Anda, tapi hujan es itu tidak menyebabkan kematian. Inilah yang merupakan bagian dari apa yang membuat hujan es di bangladesh ini begitu aneh.

Gempa di New Madrid, Missouri, 1811-1812

Sementara bagian Barat Amerika Serikat lebih dikenal rentan gempa, sebagian besar Midwest juga berada disepanjang garis patahan, dan sementara tidak sangat aktif, namun saat patahan itu bertingkah, ia melakukannya dalam skala besar. Untungnya, pada saat itu, daerah terburuk yang terkena gempa itu, jarang penduduknya, begitu sedikit orang meninggal, namun dampak geologinya cukup aneh dan meluas. Celah-celah besar membagi tanah, dan getaran dari gempa menyebabkan sungai Mississippi mengalir mundur (meskipun sementara). Namun ada efek permanennya juga, yang merubah lanskap Midwest. Tebing-tebing sepanjang sungai hancur, sungai mengering dan teralihkan, dan aliran sungai berubah dengan terciptanya Kentucky Bend. Beberapa danau langsung diisi dengan tanah seiring naiknya daratan, dan lainnya seperti Reelfoot Lake di Tennessee terbentuk ketika tanah tiba-tiba tenggelam. Dan bukan hanya midwest yang merasakan gempa, kerusakan juga dilaporkan di New England, dengan lonceng gereja berbunyi sendiri di Boston dan trotoar retak di Washington DC. Banyak proses geologi yang lambat dan mengambil jutaan tahun untuk terjadi, sehingga jarang untuk melihat seperti pembentukan kembali yang dramatis sebuah lanskap selama suatu periode waktu yang singkat.

Serbuan Ular, St Pierre, Martinique, 1902

Kombinasi fenomena geologi dan fenomena alami menyebabkan kejadian aneh terjadi pada tahun 1902. Aktivitas vulkanik di “Bald Mountain” (mount Pelee) di Martinique mengalami peningkatan, begitu sedikit orang yang memperhatikan ketika tremor dan vent-holes mulai terjadi pada bulan April. Pada bulan Mei, bagaimanapun, hujan abu turun dan bau mengerikan belerang meresap di udara, memaksa ribuan ular fer-de lance turun gunung. Ular-ular berbisa ini menyerbu masuk e kota st pierre, menewaskan lebih dari 50 orang dan hewan yang tak terhitung jumlahnya sebelum sebagian besar dihancurkan oleh tentara. The Guerin Sugar Works, dua km sebelah barat laut dari St Pierre, juga terpengaruh ketika diserang oleh kawanan semut berbintik-bintik dan lipan kaki panjang yang menyebabkan kemalangan pada kuda-kuda. Sayangnya, menenangkan dan mengamankan hewan dan manusia dari serangan serangga tidak akan membuat banyak perbedaan, 2 hari kemudian gunung berapi mengirim awan piroklastik ke seluruh kota dan membunuh semua, kecuali dua dari 30.000 penduduk St Pierre. 

Tri State Tornado, Missouri, Illinois, Indiana, 1925

Tornado regular saja cukup berbahaya, namun tornado yang melewati tiga negara bagian amerika serikat ini pada bulan Maret 1925 membuat tornado-tornado lainnya lainnya menjadi kurang mengerikan. Tornado ini ber’wisata’ lebih dari 219 mil (352 km) dan merupakan salah satu yang terkuat yang pernah tercatat, menetapkan standar untuk level 5 pada skala Fujita. Teori tentang tornado dan badai supercell menunjukkan bahwa perjalanan tornado sejauh ini tidaklah mungkin, tetapi laporan mengkonfirmasi bahwa tornado ini ternyata memang melintasi tiga negara bagian yang berbeda tanpa henti, menewaskan hampir 700 orang, melukai lebih dari 2.000 orang dan kerugian materi pada saat itu diperkirakan sebesar $ 16.500.000.

Serbuan Gajah-Gajah Hutan Chandka, India, 1972

Musim semi 1972, memperpanjang kekeringan di kawasan hutan Chandka. Keadaan menjadi lebih buruk karena kawasan itu kemudian dilanda gelombang panas yang membakar. Hal ini menyebabkan gajah lokal, biasanya jinak dan tidak menjadi ancaman bagi manusia di daerah itu, mengamuk karena kekurangan air dan makanan, menjadi bahaya bagi petani lokal, begitu banyaknya gajah sehingga banyak orang yang takut untuk meninggalkan rumah mereka. Situasi bertambah buruk di musim panas dan gajah-gajah yang kepanasan akhirnya mengamuk dan menyerbu serta menghancurkan lima desa yang berbeda, menyebabkan 24 kematian dan menghancurkan segala sesuatu di jalan mereka. Yang cukup menarik, daerah ini, yang hari ini cukup basah, sekarang menjadi cagar gajah di mana wisatawan bisa melihat gajah dari jarak dekat di kawasan itu.

Great Smog, London, 1952

Smog adalah smoke (asap) + Fog (kabut). Meskipun ini bukan peristiwa yang sepenuhnya alami, lingkungan memang memainkan peran besar dalam rantai peristiwa ini. Pada awal Desember 1952, kabut tebal dan dingin melanda daerah London. Karena dinginnya, untuk menghangatkan suhu, penduduk London mulai membakar batubara untuk menghangatkan rumah mereka. Polusi yang dirilis oleh pembakaran batu bara tidak lepas hilang ke atmosfer, namun terjebak oleh lapisan inversi yang dibentuk oleh massa padat udara dingin yang menggantung di atas kota. Polutan ini berakumulasi selama empat hari sampai kabut asap menjadi begitu tebal sehingga mengemudi di jalanan menjadi mustahil. Tinggal di dalam ruangan juga tidak lebih baik, karena asap dengan mudah memasuki rumah bahkan konser pun dibatalkan karena penonton tidak bisa melihat panggung saking tebalnya asap. Pada saat itu, tidak ada kepanikan besar atas kabut asap. Namun di minggu-minggu berikutnya, lebih dari 4.000 orang meninggal, dan 8.000 lainnya menyusul dalam bulan-bulan berikutnya, semua akibat masalah pernapasan yang disebabkan atau diperburuk oleh polusi. Barulah setelah itu pada tahun 1956 dipromosikan kegiatan Clean Air Act, dan orang-orang menjadi lebih sadar akan pengaruh perbuatan mereka pada lingkungan yang pada gilirannya merugikan mereka sendiri.
Description: 10 Bencana Alam Paling Aneh Rating: 5.0 Reviewer: Kumpulan Berita Unik ItemReviewed: 10 Bencana Alam Paling Aneh